Memanfaatkan Fintech untuk Mencapai Keuangan Inklusif di Indonesia

Authors - Ghiyazuddin A Mohammad & John V. Owens

Fintech” – suatu penggabungan antara layanan keuangan dan teknologi – mengambil alih dunia keuangan tradisional secepat badai. Tak terkecuali Indonesia dengan ekosistem yang berkembang pesat mencakup sejumlah layanan keuangan yang ditawarkan oleh beberapa Fintech generasi terbaru.
Diagram di bawah ini, meskipun belum semuanya, menyoroti beberapa pemain Fintech yang memberikan berbagai layanan keuangan seperti pembayaran, kredit, tabungan, asuransi dan manajemen keuangan.



Indonesia – Tempat yang sempurna untuk menerapkan “Fintech

Indonesia merupakan pasar ponsel terbesar keempat di dunia dengan sebanyak 339,9 juta koneksitas –atau penetrasi SIM sebesar 131%! 43%  penduduk Indonesia sudah menggunakan ponsel pintar (smart phone). Lebih jauh, Indonesia berkembang menjadi negara mobile pertama (mobile-first)” dengan 64,1 juta dari total sebanyak 88,1 juta pengguna mengakses internet melalui ponsel atau gawai. Hal ini memicu penggunaan media sosial dengan platform seperti WhatsApp, Facebook, Blackberry, Line, Path, dll. Tren ini juga menyebabkan pertumbuhan yang mencengangkan dalam perdagangan elektronik (e-dagang atau e/m-commerce) dengan nama-nama besar seperti Alibaba, Softbank, Sequoia, Rocket Internet dan Temasek yang mendukung usaha-usaha local tsb. Disisi lain, hanya 36% dari 250 juta penduduk Indonesia yang memiliki akses terhadap layanan keuangan formal.

Mempertimbangkan kemajuan teknologi tersebut, Indonesia merupakan tempat yang baik dalam memanfaatkan “Fintech” untuk mencapai keuangan inklusif. Inovasi-inovasi Fintech membuka berbagai peluang baru untuk mengubah empat layanan utama keuangan secara dramatis – pembayaran, pengiriman uang, kredit dan setoran tabungan. 

Tabungan:

Tanpa akses terhadap penyedia layanan keuangan formal, banyak penduduk miskin di Indonesia tetap akan menggunakan sumber-sumber informal seperti Arisan, paket tabungan terencana, menabung kepada agen-agen individu, dll.[1] Rasio tabungan di bank terhadap PDB (indikator mobilisasi tabungan) di Indonesia sebesar 34,55% - jauh lebih rendah dibandingkan dengan negara tetangga seperti Malaysia (130,25%), Kamboja (42,97%) dan Filipina (54,38%). Hal ini membuka kesempatan bagi seluruh penyedia layanan keuangan khususnya pemain-pemainfintech baru.
Jika kita melihat contoh dari berbagai negara, Equity Bank di Kenya merupakan salah satu contoh terbaik untuk mobilisasi tabungan layanan perbankan digital. Setelah memulai transaksi perbankan melalui agen (agency banking) di tahun 2011, bank ini telah memobilisasi sebesar 20%[2] dari total jumlah tabungan melalui jaringan agen yang terdiri atas 25.388 agen yang tersebar di seluruh Kenya. Satu tim khusus yang fokus pada bisnis perbankan melalui agen dan model bisnis yang berpusat pada klien dengan filosofi “mendengarkan pelanggan” mendukung pencapaian tersebut. Contoh lain adalah, rekening tabungan tanpa-bunga M-Pawa di Tanzania yang dikembangkan oleh Vodacom dan CBA serta Rekening Tabungan Kunci (Lock Savings Account) yang ditawarkan kepada pengguna M-Shwari di Kenya dimana para pelanggan dapat memindahkan uangnya dari rekening MPESA mereka menjadi tabungan dalam bentuk rekening tabungan berjangka (setoran tetap) dengan bunga yang lebih tinggi.
 
Contoh lain adalah bank-bank pedesaan (BPR) di Filipina yang merupakan salah satu penyedia layanan keuangan pertama yang mengirimkan SMS pengingat untuk komitmen tabungan (commitment savings), yang menyebabkan peningkatan dramatis dalam tabungan.[3] Hal ini kemudian diikuti oleh pemain-pemain fintech baru pendukung bank untuk membantu meningkatkan perilaku menabung pada segmen pelanggan dengan pendapatan rendah seperti Juntos. Hal yang sama, ada potensi yang signifikan untuk memanfaatkan teknologi SMS dan/atau platform kirim-pesan untuk mendukung tabungan berencana di Indonesia. Contoh yang umum dalam hal ini adalah praktek menabung untuk memenuhi kebutuhan pada saat perayaan keagamaan seperti Lebaran, dsb.

Pembayaran:

Sektor e-dagang (e-commerce) yang sedang berkembang pesat dan didorong oleh investor-investor internasional membutuhkan infrastruktur pembayaran on-line dan off-line yang intuitif. Namun demikian, studi yang dilakukan oleh Bank Indonesia tahun 2015 mencatat bahwa 89,7% transaksi di Indonesia masih menggunakan uang tunai. Hal ini memberikan kesempatan yang luar biasa. Bayangkan proses pembayaran di bawah ini untuk pembelian melalui portal e-dagang terbesar untuk mereka yang memiliki rekening bank:



Navigasi melalui berbagai macam situs web membuat proses pembayaran terasa membingungkan dan memberikan pengalaman buruk bagi pelanggan. Selain itu, hal ini akan membatasi pilihan pembayaran bagi mereka yang memiliki rekening bank atau menyediakan pilihan pembayaran pada saat penerimaan barang (cash-on-delivery) yang lebih mahal bagi operator. Menggunakan uang/dompet elektronik untuk pembayaran merupakan salah satu pilihan yang dapat disediakan untuk portal e-dagang terdepan seperti Tokopedia dan Elevania, sehingga memberikan pengalaman yang mudah bagi pelanggan dan mengurangi biaya untuk operator.

Lebih lanjut, pembayaran melalui uang/dompet elektronik juga meningkatkan penggunaan (use case) secara signifikan. Kopokopo – koordinator pedagang (merchant aggregator) terkemuka di Afrika Timur dengan lebih dari 10.000 merchant – merupakan salah satu contoh sukses dalam menyediakan  platform pembayaran merchant berbasis ponsel dengan skala kecil.  Selain fokus mendapatkan merchant, organisasi ini juga menyediakan layanan yang memberikan nilai tambah seperti penyediaan dana tunai (cash advance) untuk merchant, alat-alat untuk analisa transaksi, dan inisiatif-inisiatif yang 

melibatkan merchant/pelanggan untuk memastikan bahwa transaksi merchant tetap aktif. Easypaisadi Pakistan dan PayTMdi India merupakan contoh penting lainnya untuk pembayaran merchant. Lebih dekat lagi, pemain-pemain seperti TCash, Tapp Commercedan Dimo Paymengejar ketinggalan dengan cepat. Tujuannya adalah untuk mengintegrasikan layanan keuangan dengan perilaku/kebiasaan pengguna terkait dengan layanan keuangan melalui satu rekening/dompet digital. Hal ini dapat digunakan untuk berbagai macam pembayaran seperti pembelian online, pembayaran gojek/uber, pembayaran di restoran, atau pembayaran tagihan-tagihan lainnya (listrik, air, dll).
 

Pengiriman Uang:

Pengiriman uang – baik domestik maupun internasional – merupakan pasar yang sangat besar di Indonesia. Namun umumnya pengiriman uang domestik masih bersifat tunai dan informal. Riset yang dilakukan oleh Gallup, 50% dari penduduk Indonesia mengatakan bahwa mereka mengirim uang kepada keluarga atau teman dalam 12 bulan terakhir secara tunai. Rata-rata sebesar US$ 87,40 dikirimkan sebanyak 1,6 kali  per bulan! Bukti nyata bahwa masih ada pasar yang belum tersentuh yang menunggu untuk difasilitasi oleh para pemain fintech. Hal ini secara khusus sangat relevan bagi pengguna mobile/uang elektronik dimana sebanyak 71,5% dari seluruh transaksi (dari nilai) merupakan transfer orang ke orang (P2P).

Indonesia menyumbang sebesar US$1o,5 milyar terhadap pasar pengiriman uang internasional – sebuah kesempatan bagi para pemain fintech baru untuk menambahkan manfaat kepada pasar yang sangat didominasi oleh para operator transfer uang seperti Western Union. Hal ini terutama terkait dengan biaya pegiriman uang yang rata-rata sebesar 8,6% dari jumlah yang dikirim.[4] Beberapa pemain-pemain fintech yang utama pada segmen ini seperti WorldRemit telah bekerjasama dengan Dompetku -  layanan uang elektronik yang ditawarkan oleh Indosat Ooredoo. Meskipun demikian, ada kebutuhan yang cukup menarik bagi para pemain untuk fokus melayani Tenaga Kerja Indonesia yang sebagian besar berada di Malaysia, Taiwan Saudi Arabia, Hong Kong, Singapura dan Amerika Serikat.


Pinjaman:
 
World Bank memperkirakan hanya 13,1% masyarakat Indonesia yang memiliki pinjaman pada 
lembaga keuangan formal. Lebih jauh, rasio pinjaman dalam negeri terhadap GDP hanyalah sebesar 43,5%, lebih rendah dari negara tetangga seperti Malaysia (140,5%), Vietnam (113,8%), Filipina (55,7%) dan China (169,3%). Layanan pinjaman berbasis online (fintech) dapat memainkan peranan penting dalam mempersempit kesenjangan pinjaman ini. Pinjaman mikro dan UMKM dengan alternative model penilaian kredit sedang berkembang pada negara-negara berkembang.
 
M-Shwari di Kenya menawarkan pinjaman kecil/cepat bekerjasama dengan Bank Central Africa (Central Bank of Africa - CBA). Penilaian kredit dibuat berdasarkan data penggunaan pulsa telpon, penggunaan M-PESA, lama penggunaan dll.  Tigo Tanzania (Tigo Nivushe), MTN Ghana (Mjara loans), dan Equity Bank (Eazzy loan) merupakan contoh lain dari model ini.
 
Melihat besarnya pasar yang tersedia di Indonesia, masih terdapat kesempatan yang sangat besar untuk berkembang. Mengikuti perkembangan global, pemain kredit fintech seperti Uang Teman, Mekar, dan Modalku telah berkembang in Indonesia.
 
Selanjutnya – Berpikir Global, Bertindak Lokal!


Seiring pemerintah Indonesia ingin meningkatkan layanan keuangan inklusif secara cepat, kami memandang bahwa inovasi-inovasi semacam ini dapat menjadi batu lompatan untuk mencapai tujuan tersebut. Dengan pertumbuhan pengguna ponsel, peralihan ke penggunaan ponsel pintar dan kemajuan solusi fintech, kami melihat berbagai kesempatan untuk menyediakan layanan dan akses keuangan yang lebih bernilai bagi seluruh masyarakat Indonesia. Teknologi-teknologi baru yang memacu pengumpulan tabungan, akses kredit, pembayaran yang lebih cepat, dan pengiriman uang yang lebih murah dari/ke seluruh dunia, dapat juga membantu keuangan inklusif di seluruh Indonesia secara lebih cepat dibandingkan beberapa dekade terakhir. Semua ini tergantung pada pemerintah, pembuat kebijakan, regulator dan para pemain di industri keuangan untuk memadukan dan memungkinkan pengembangan-pengembangan baru ini membantu Indonesia menjadi salah satu pasar dengan pertumbuhan tercepat dan secara keuangan inklusif di dunia. 

 
[2]Total deposit mobilization= KES 62.8 Billion; Deposits through agency channel = KES 317 Billion (Performance as of Q3 2015)